Indahnya Sunrise Di Bukit Sikunir Wonosobo

Table of Contents
panorama bukit sikunir

Dataran Tinggi Dieng memang tidak salah apabila mendapat sebutan sebagai negeri diatas awan. Selain hawanya yang sejuk dan asri, Dataran Tinggi Dieng juga menawarkan berjuta-juta pesona keindahan pemandangan alam yang memanjakan mata dan eksotis.

Salah satu destinasi lokasi wisata yang akan menghipnotis mata pengunjung adalah panorama keindahan Bukit Sikunir Dieng. Bukit Sikunir merupakan salah satu destinasi wisata terfavorit di dataran tinggi dieng yang terletak di kabupaten Wonosobo.

Wahana wisata ini sudah terkenal sejak dahulu kala karena puncak bukitnya bisa menjadi spot terbaik untuk menikmati momen terbitnya matahari secara langsung (golden sunrise). Jadi tidaklah mengherankan apabila banyak wisatawan asing maupun lokal yang datang dari berbagai daerah berbondong-bondong ingin menyaksikannya secara langsung.

Seperti tahun- tahun sebelumnya, agenda setelah acara halalbihalal dan silaturahmi dengan keluarga besar selesai adalah berwisata bersama anggota keluarga sekaligus sebagai sarana untuk melepas lelah.

Pada kesempatan tahun ini saya beserta anak istri ingin mengunjungi keindahan sunrise di bukit Sikunir yang ceritanya merupakan salah satu tempat terbaik untuk melihat terbitnya matahari secara langsung, selain Gunung Bromo di Jawa Timur.

Berangkat dari rumah habis subuh dengan harapan sampai lokasi sore hari dan sekalian istirahat disana.  Rencana awal sih ingin memakai sepeda motor tapi setelah berpikir sejenak niat memakai motor saya urungkan setelah mempertimbangkan kedua anak-anak saya.

Akhirnya saya memutuskan untuk berangkat menggunakan mobil yang ada di garasi saja. Benar saja baru beberapa kilometer mobil berjalan meninggalkan rumah anak-anak terlelap tidur kembali didalam mobil, barangkali anak-anak masih mengantuk karena hari masih relatif pagi.

Sambil menikmati sejuknya udara pagi yang masih segar dan diiringi musik melankolis dari dalam mobil, kami sekeluarga terus menuju melewati jalan raya yang masih lengang dan relatif masih sepi.

Berhubung masih dalam suasana libur lebaran maka jalan yang kami lewati sepanjang jalan raya Jogja – Magelang – Borobodur – Salaman – Sapuran – Kertek – Wonosobo cukup padat merayap.

Perjalanan Jogja – Wonosobo yang biasanya kami ditempuh dalam 2,5 jam kali ini menjadi 3 jam karena padatnya kendaraan di jalan tersebut. Sampai di kota Wonosobo sekitar jam 11.30.

Karena hari sudah siang akhirnya kami memutuskan untuk istirahat makan siang di warung lesehan sederhana sekitar alun-alun Wonosobo sekalian sholat dhuhur disana.

Setelah beristirahat sejenak dan membayar semua makanan yang kami pesan, kami melanjutkan perjalanan langsung menuju ke Dieng. Pemandangan yang indah dan hawa yang sejuk sepanjang kota Wonosobo – Dieng sangat memanjakan mata kami.

Apalagi anak-anak dan istri juga tidak kalah takjubnya disuguhi pemandangan alam yang sangat indah, sehingga meminta kami untuk beberapa kali berhenti sekedar untuk berfoto bersama.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 km dalam satu jam sampailah kami di bukit Dieng. Daerah Dieng yang beberapa tahun lalu masih sangat sepi sekarang sudah sangat ramai, terakhir kali saya berkunjung ke sana dalam rangka study tour sekitar tahun 2013 yang lalu.

panorama golden sunrise di bukit sikunir

Sekarang obyek wisatanya sudah sangat tertata, pedagang kaki lima pun sudah dibuatkan stan-stan yang teroganisir dengan baik, papan petunjuk arah sudah lebih lengkap dan warung makan pun sudah tersedia disana dengan aneka menu makanan yang sangat menggoda lidah serta penginapan juga sudah jauh lebih mudah ditemui dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu.

Sampai di Dieng sekitar pukul 15.30 dan mencari mushola untuk sholat ashar. Sebenarnya kami sekeluarga ingin mencari spot buat menikmati sunset di area sekitar Dieng sekaligus mengabadikan didalam kamera yang kami bawa.

Berhubung kabut sudah turun menutupi bukit Dieng, akhirnya kami memutuskan untuk langsung menuju ke desa Sembungan yang konon merupakan desa terdekat dengan bukit Sikunir sekaligus merupakan desa tertinggi di pulau Jawa.

Ketika tiba di gerbang desa Sikunir kami langsung ditawari homestay oleh salah seorang penduduk setempat yang juga merupakan anggota tourgate desa Sembungan.

Setelah bernegosiasi dan melihat dua homestay yang ditawarkan akhirnya kami memilih homestay yang kedua seharga 250 ribu buat 8 orang.

Bentuknya berupa satu kamar yang cukup luas, berhubung kami berjumlah 4 orang , saya, istri dan dua anak saya yang beranjak remaja kamar sebesar ini sudah lebih dari cukup untuk bermalam.

Sedangkan fasilitas yang kami dapat kasur, kamar mandi dan dapur lengkap dengan peralatannya. Homestay tersebut kebetulan tidak jauh dengan warung sederhana sehingga kami tidak kerepotan ketika mencari makan malam di sana.

Selesai makan malam sekitar jam 20.15 kami memutuskan langsung istirahat karena besoknya setelah sholat shubuh kami harus melanjutkan perjalanan berangkat ke Sikunir.

Ketika jam dinding menunjukkan tepat pukul 03.45 bang arjun yang merupakan pemandu kami membangunkan untuk persiapan menyaksikan sunrise di puncak Sikunir.


Perjalanan dari homestay ke Sikunir sekitar 15 menit melewati jalanan berbatu yang sangat gelap. Buat teman-teman yang memakai motor mesti ekstra hati-hati melewati jalan tersebut agar tidak tergelincir. 

Ketika sampai di area parkir Sikunir ternyata suasananya sudah banyak orang disana dan cukup ramai. Tertanya banyak juga yang penasaran dengan keindahan bukit sikunir dalam benak saya.

Setelah dari parkiran kami harus jalan kaki mendaki menuju puncak Sikunir kurang lebih 25 menit. Di tengah udara yang sangat dingin – kata pemandu kami suhunya sekitar minus satu derajat – kami bersusah payah mendaki tangga demi tangga jalan setapak, untungnya istri dan kedua anak saya tidak mengeluh dan sangat semangat walaupun udara masih sangat dingin.

Walaupun beberapa kali kami sekeluarga harus berhenti untuk istirahat dan mengambil napas dan minum air mineral untuk menghilangkan dahaga ditenggorakan.

panorama telaga cebong bukit sikunir

Untuk mencapai puncak Sikunir ternyata tidak semudah yang saya bayangkan, untuk mendaki sangat membutuhkan kesiapan fisik yang memadai supaya dapat mendaki Sikunir dalam hawa dan udara yang ekstra dingin.

Akhirnya perjuangan ekstra mendaki sampai ke puncak Sikunir terbayar lunas dengan menyaksikan keindahan panoramanya. Konon dari puncak Sikunir dapat kita saksikan keindahan alam lainnya yaitu gunung Merapi, Sumbing, Lawu, Sindoro, Merbabu, Ungaran, serta gunung Telomoyo.

Setelah menanti beberapa saat akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul juga, Golden Runrise menampakkan wajahnya dari balik bukit sikunir, langsung saja istri dan anak saya mengabadikan momen tersebut dalam ponselnya.

Harga Tiket: Rp 10.000

Catatan Penting

Perhatian: Harga Tiket dapat mengalami perubahan sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan, terutama pada musim lebaran dan liburan. Alangkah baiknya untuk kepastian harga tiket langsung menghubungi tempat wisata terkait.

Itulah sekilas perjalan kami sekeluarga mengunjungi bukit sikunir yang sangat menakjubkan dan sangat indah panorama alamnya, semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat bagi sahabat semua yang ingin mengunjungi bukit sikunir bersama keluarga dan orang-orang terkasih.